sindunesia Sindunesia, (Pejuang Waktu) yang suka belajar apa saja untuk kemanfaatan sesama.

Pengalaman Nyantri di Pondok Pesantren

logo, pondook pesantren, keterampilan, al-ikhlas, babadan, ponorogo, ngaji, santri , yayasan yatim piatuAssalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh, selamat baca sobat sindunesia, kali ini Aku akan menceritakan tentang bagaima kisahku ketika pertama kalinya masuk di dunia Pondok Pesantren.

Pastinya kalian sudah tidak asing lagi kan dengan sebutan pondok Pesantren. Pondok pesantren ialah sebuah tempat dimana aktivitas institusi pendidikan keagamaan paling tua yang tumbuh secara swadaya oleh kalangan masyarakat Islam di nusantara.

Sejarah Islam mencetuskan belum ada data yang pasti sejak kapan kehadiran pondok pesantren di Nusantara ini. Namun pastinya sejak abad ke 16 telah diketahui adanya ratusan pondok pesantren yang tersebar di pelosok nusantara.

Intinya Pondok Pesantren sebagai pembelajaran secara spiritual maupun intelektual, atau lebih simple nya yaitu suatu tempat pembelajaran yang didominasi dengan pendidikan agama islam gitu.

Perlu kita ketahui, dimana mayoritas pondok pesantren ini banyak dijumpai di Nusantara khususnya pulau Jawa lho.

Lebih lanjut, bagaimana kisahku ketika pertama nyantri. Baik, langsung saja silahkan baca berikut ceritanya.

Alasan Masuk Pondok Pesantren

alasan, pondok pesantren, pilihan, jalan, masjid

Tidak jarang orang terdekat sekitar lingkungan saya juga teman – teman yang mengutarakan pertanyaan kepadaku, salah satunya yang mereka katakan ialah, motivasi apa yang membawamu masuk di pondok pesantren?

Hal ini merupakan pertanyaan yang membingungkan untuk ku jawab, karena kala itu sebenarnya aku belum juga memiliki tujuan yang cukup jelas pula kenapa aku masuk pondok pesantren.

Ya mungkin karena diriku sama sekali belum kenal dengan yang namanya pesantren.

Yang mana keseharianku sebelum nyantri hanyalah berfikir gimana hari–hariku harus menyenangkan, tanpa harus berfikir akan kemanfaatan dengan apa yang aku kerjakan disetiap waktunya, maklum saja ya masih pemikiran bocah.

Bocah bandel, mungkin itulah sebutan yang cocok untuk masa kecilku dulu, masih ku ingat bahwa aku dulu anaknya memang suka kontra dan berontak dari nasehat keluarga. hehe

Sewaktu aku lulus dari salah satu sekolah dasar di desa, hal pertama yang menjadi pertanyaan dalam diriku sendiri, dan yang harus segera ku jawab ialah, kemanakah aku harus melanjutkan pendidikan?

Bisa dibayangkan ya kalau urusan pendidikan menjadi hal yang penting apalagi masih seusiaku yang baru lulus SD serta aturan wajib sekolah dari pemerintah 12 tahun kan.

Melalui beberapa pertimbangan dengan keluarga, distulah salah satu alasan kenapa aku harus masuk di pondok pesantren. Hal itu karena beberapa faktor.

Baiklah beberapa faktor itu diantaranya ialah yang akan kalian baca pada ulasan berikut.


Baca Juga: Pengalaman Menarik Masa SD


Faktor yang Menggugah Keinginan Nyantri

PENYEBAB, PENDORONG, MASUK PONDOK PESANTREN, EFEK, DORONGAN

Pertama karena dari faktor saudara, tak asing lagi bahwa saudaraku telah lebih dulu dari aku mereka telah mengenal dan sudah terjuan dalam pendidikan dunia pondok pesantren.

Karena hal itulah beliau–menyarankan dan mendukung diriku agar nyantri juga untuk mengikuti jejaknya begitu.

Kemudian setelah menerima beberapa masukan dari keluarga aku masih merenungkan sampai selang beberapa waktu untuk mencari keputusan.

Kedua karena adanya dukungan serta pencerahan oleh kakak dan orang tua akhirnya muncul faktor internal yang tumbuh dari dalam diriku sendiri keinginan dalam hati untuk nyantri di pondok pesantren.

Keinginan itu muncul setelah ku renungkan dengan beberapa pertimbangan lainya bahwa jikalau aku nanti masuk dan belajar di pesantren pasti aka ada hikmah kebaikan yang akan ku dapatkan ke depanya.

Entah kenapa semenjak ada dukungan dari keluarga agar aku mondok di pesantren jiwaku semakin tambah penasaran dan muncul rasa ingin tahu akan dunia pondok pesantren.

Selang beberapa hari aku telah mantab dan ku ambil keputusan lalu bilang pada orang tua juga kakakku, aku katakan pada mereka bahwa aku siap untuk masuk di pondok pesantren menjelang tahun ajaran baru kala itu.

Orang tua dan kakak pun menanggapi sangat baik atas ungkapanku untuk masuk pondok pesantren. Terlihat dari respon mereka dengan senyum nan bangga begitu.

Semenjak hari itu telah kubulatkan dan mentata niat mempersiapkan diri untuk adaptasi dengan dunia pesantren.

Masa Adaptsasi di Pesantren

pondok pesantren, santri, ngaji, adaptasi,Setelah melewati beberapa langkah yang sempat bimbang juga, dan pada akhirnya sampailah pada hari itu, kamis 13 Juni 2011 akhirnya aku harus masuk meninggalkan kampung halaman untuk beradaptasi ke pondok pesantren Al-Ikhlas Ponorogo.

Ya pondok Pesantren Al–Ikhlas Ponorogo inilah dimana tempat yang aku singgahi untuk bermukim dalam melanjutkan pendidikan serta pertama kali menyandang gelar sebagai santri.

Awal masuk dalam lingkungan Pondok Al–Ikhlas Ponorogo aku merasakan betapa berbeda akan suasana pesantren dengan suasana rumah sendiri.

Tidak secara langsung aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baru itu yang jelas pasti butuh waktu untuk penyesuaian karena perbedaan lingkungan yang memaksa dengan aturan dan tata tertib baru.

Tidak seperti yang dibayangkan akan seindah dirumah dan berbeda sangat dengan aktivitas sebelum masuk pondok, sempat kaget dengan berbagai programnya seperti harus bangun tidur pagi lebih awal sebelum waktu subuh.

Banyak hal baru yang perlu pembiasaan untuk beradaptasi, dari hal makan, yang biasanya di rumah mau makan sepuasnya, namun kala di pondok hal itu sudah tidak berlaku.

Semua Pondok Pesantren mungkin hampir sama, untuk urusan makan pastinya ada jadwal dan jatah dengan porsi yang sudah ditentukan untuk semua santrinya.

Begitu juga dimana phenomena yang membuat jengkel dengan hal sepele. Hal sepele ini ialah berasal dari sandal jepit. Namanya juga sandal jepit kalau tidak dijepit mungkin akan lepas ya

Memang ini yang saya alami, tak jarang sandal jepit seorang santri dimana saking banyaknya sandal yang terparkir dalam satu tempat secara tanpa kita sadari berpindah tempat, bahkan hilang tak tau ke mana arahnya.

Istilah pondoknya yaitu ghosob atau meminjam barang tanpa adanya izin dulu dari sang pemilik barang.

Ujian yang Harus Diperjuangkan

daun semanggi, tinggi, pucuk, pondok pesantremHal seperti itu membuat aku yang baru beradaptrasi dengan pesantren menjadi sebuah tantangan yang hanya dapat pikul kala itu.

Seusiaku masih anak–anak yang harus jauh dari rumah dan orang tua, suasana itulah yang membuat hatiku teringat dengan rumah dan juga keluarga,.

Masih kuingat kondisi seperti itu aku lalui selama tiga bulan lamanya, hal itu menjadi ujian kebetahan di pondok.

belum lagi kala sore hari dengan suasana sunrise yang terbentang diatas langit pondok. momen seperti inilah yang membuat hati ini semakin rindu ingin pulang rasanya.

Ujian semacam ini sungguh berat bila dirsa seperti yang kualami hingga pundi air matapun terjatuh. haha

Memang benar rindu itu rasanya berat, seperti narasinya Dilan. hehe

Untuk kalian mungkin yang belum pernah mondok di pesantren pasti jarang mengalami moment seperti ini.

Jadi kenapa aku bilang hal seperti ini menjadi ujian, karena peristiwa yang demikian itu pada umumnya akan menentukan datangnya seleksi alam untuk dapat bertahan di pondok atau sebaliknya.

Faktanya, jika seorang santri tidak bisa menahan rasa kangen-nya untuk tinggal di pondok, tak jarang juga mereka lebih memilih mengundurkan diri dan kembali pulang ke rumah.

Seperti itulah gambaran bagaimana diriku ketika awal beradaptasi di pondok pesantren.

Pesan dan Kesan Selama di Pondok Pesantren

pondok pesantren, yayasan, al ikhlas babadan, ponorogo

Seiring berjalannya waktu terhitung sudah tiga bulan lamanya aku mulai mengenal akan pondok pesantren.

Sampai disini alhamdulillah atas idzin dan ridho allah SWT,  aku dapat bertahan dengan berbagai ujian suka maupun duka, dimana aku setiap harinya dapat mengikuti aktivitas kegiatan program pondok pesantren.

Perjuangan untuk tetap istiqomah sampai aku merasakan betah menuntut ilmu di pondok, hal itu tidak lepas dari doa dan restu orang tua pastinya.

karena seperti yang kita ketahui bahwa dimana ada ridho dari orang tua, maka di situ ridho Tuhan Allah SWT juga menyertainya.

Disamping itu tak lepas juga dari orang disekitarku, yang setiap harinya selalu berjuang bersama, mereka ialah teman – teman seperjuangan yang selalu mau susah senang bersama untuk menjadi sahabat menuntut ilmu.

Dari beberapa hal itu, tak lengkap juga jika hanya dari dukungan orang sekitar ataupun faktor eksternal, namun semua itu kembali pada diriku sendiri.

Apabila tanpa adanya keistiqomahan dan niat dalam diri untuk semangat belajar agama sesuai dari pakem Pesantren mungkin masa itu aku juga sudah pulang.

Akhir Kata

Okey demikian teman – teman sebagian kisah pertamakalinya diriku nyantri di Pondok Pesantren. Semoga bermanfaat. Dan apabila ada salah kata boleh dimaafkan, serta jangan lupa untuk tetap stay  baca di sindunesia.com. Terimakasih dan sampai jumpa pada artikel- artikel berikutnya.

Wassalammu alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.

sindunesia Sindunesia, (Pejuang Waktu) yang suka belajar apa saja untuk kemanfaatan sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *