Sindu Muda Sindu Muda, (Pejuang Waktu) yang suka belajar apa saja untuk kemanfaatan sesama.

Peta Jawa Tengah | Penjelasan Lengkap

Peta Jawa Tengah

Peta Jawa Tengah Jawa Tengah (Jawa : ꦗꦮꦠꦼꦔꦃ; Bahasa Indonesia: Jawa Tengah, disingkat Jateng) adalah sebuah provinsi di pulau jawa Indonesia.

Provinsi ini terletak di tengah-tengah pulau Jawa yang ibukota administratifnya berada di Semarang.

Wilayah provinsi ini adalah 32,800.69 km², yaitu sekitar seperempat dari total luas wilayah Jawa. Populasinya adalah 33.753.023 pada sensus 2015 yang merupakan provinsi terpadat ketiga di Jawa dan Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Jawa Tengah juga merupakan daerah dengan konsep budaya yang meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kota serta Provinsi Jawa Tengah.

Namun secara administratif kota dan kabupaten sekitarnya (Yogyakarta) telah membentuk wilayah khusus tersendiri sebagai daerah otonomi khusus (bertanggung jawab atas provinsi) sejak kemerdekaan Indonesia.

Berikut uraian peta Jawa Tengah beserta dengan penjelasan selengkapnya.

Gambar Peta Jawa Tengah

Berikut adalah gambar peta Jawa Tengah yang diambil dari google map.

Gambar peta Jawa Tengah

Peta Jawa Tengah Lengkap

Gambar peta Jawa Tengah lengkap disertai berbagai macam keterangan didalamnya.

Peta Jawa Tengah Lengkap

Peta Buta Jawa Tengah

Peta Jawa Tengah jenis peta buta tanpa adanya keterangan spesifik yang tertulis.

Peta Buta Jawa Tengah

Peta Provinsi Jawa Tengah

Gambar peta Provinsi Jawa Tengah disertai dengan arah mata angin dan keterangan yang menunjukkan bagian wilayah kabupaten/kota karya dari dinas PSDA.

peta provinsi Jawa Tengah

Peta Jawa Tengah Hitam Putih

Gambar peta Jawa Tengah berwarna hitam putih beserta dengan batas provinsi, kabupaten, kota dan arah mata angin.

Peta Jawa Tengah Hitam Putih

Peta Jawa Tengah Atlas

Gambar peta Jawa Tengah jenis Atlas beserta keterangan dataran, kota, gunung, lalu lintas dan perbatasan.

Peta Atlas Jawa Tengah

Peta Jawa Tengah Hd

Gambar peta Jawa Tengah berwarna hijau dan biru dengan resolusi High Definition.

Peta Jawa Tengah HD

Peta Jawa Tengah PNG

Gambar berikut menunjukkan peta Jawa Tengah dengan format PNG beserta dengan Kabupaten, Kota dan Ibukota Semarang.

Peta Jawa Tengah PNG

Peta Jawa Tengah Solo

Gambar peta Jawa Tengah yang menunjukkan lokasi daerah Solo.

Peta Jawa Tengah Solo

Peta Jawa Tengah Temanggung

Gambar peta Jawa Tengah yang menunjukkan lokasi daerah Temanggung.

Peta Jawa Tengah Temanggung

Peta Jawa Tengah Banjarnegara

Gambar peta Jawa Tengah yang menunjukkan lokasi daerah Banjarnegara.

Peta Jawa Tengah Banjarnegara

Peta Jawa Tengah Klaten

Peta Jawa Tengah menunjukkan posisi kabupaten Klaten beserta wilayah kecamatan-nya.

Peta Jawa Tengah Klaten

Peta Jawa Tengah Wonosobo

Peta Jawa Tengah bagian Kabupaten Wonosobo beserta wilayah kecamatan kombinasi beberapa warna.

Peta Jawa Tengah Wonosobo

Peta Jawa Tengah Kebumen

Peta Jawa Tengah Kebumen beserta kabupaten dan kota disekelilingnya.

Peta Jawa Tengah Kebumen

Letak Jawa Tengah

Gambar peta Jawa Tengah berwarna merah maron yang berada diantara kepulauan Indonesia disekelilingnya.

Letak Jawa Tengah

Jawa Tengah terletak persis di tengah-tengah Pulau Jawa. Berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di bagian barat, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur.

Di sisi selatan berbatasan dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan samudera Hindia dan di sisi utara berbatasan dengan laut Jawa.

Letaknya yang strategis menjadikan Jawa Tengah sebagai jantung budaya, geografis, dan sejarah pulau daripada pulau Jawa.

Sejarah Jawa Tegah

Sejarah Jawa Tengah

Jawa Tengah memiliki sejarah panjang yang melewati berbagai masa seperti pada kutipan dibawah ini.

Etimologi

Asal muasal nama “Jawa” dapat dirunut dari abad Sansekerta yang menyebutkan keberadaan sebuah pulau bernama yavadvipa (dvipa berarti “pulau”, dan yava berarti “barley” atau juga “biji-bijian”).

Biji-bijian ini merupakan millet atau beras, keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada waktu sebelum masuknya pengaruh India.

Ada kemungkinan pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti “jauh”.

Yavadvipa disebutkan dalam salah satu epik India yaitu pada kisah Ramayana. Menurut epos tersebut, Sugriwa, komandan wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama mengirim utusannya ke Yavadvip (“Pulau Jawa”) untuk mencari dewi Hindu Sita.

Perkiraan lain bahwa kata “Java” berasal dari anak kata dalam bahasa Proto-Austronesia, Awa atau Yawa (Mirip dengan kata Awa’i (Awaiki) atau Hawa’i (Hawaiki). Kata ini umum digunakan di Polinesia, khususnya Hawaii yang memiliki arti “rumah”.

Sebuah pulau bernama Labadiu atau Jabadiu disebutkan dalam karya Ptolemeus yang disebut Geographia dibuat sekitar 150 M pada era Kekaisaran Romawi.

Dikatakan sebagai labadiu berarti “pulau jelai” yang juga kaya akan emas dan memiliki kota perak yang disebut Argyra di ujung baratnya.

Nama ini menyebutkan Jawa, yang kemungkinan besar berasal dari istilah Sanskerta Java-dvipa (Yawadvipa).

Catatan Cina dari Liangshu dan Songshu menyebut Jawa sebagai She-po pada abad ke-5 M, He-ling (640-818 M). Kemudian sampai massa Dinasti Yuan (1271–1368) menyebutnya She-po lagi dan dimulainya mereka menyebut dengan nama Zhao-Wa.

Dalam buku Yingyai Shenglan yang ditulis oleh penjelajah Ming Cina Ma Huan, orang Cina menyebut Jawa sebagai Chao-Wa dan juga pernah disebut sebagai She-pó.

Ketika Giovanni de ‘Marignolli kembali dari Cina ke Avignon dia berhenti di kerajaan Saba, yang katanya memiliki banyak gajah dan dipimpin oleh seorang ratu. Nama Saba tersebut diperkirakan sebagai interpretasinya atas She-bó.

Era prasejarah

Jawa telah dihuni oleh manusia atau nenek moyangnya (hominina) sejak zaman prasejarah.

Di Jawa Tengah dan wilayah sekitarnya di Jawa Timur, peninggalan yang dikenal sebagai “Manusia Jawa” ditemukan pada tahun 1890-an oleh ahli anatomi dan ahli geologi Belanda Eugène Dubois.

Penemuan tersebut berupa spesies Homo erectus dan diyakini berusia sekitar 1,7 juta tahun. Begitu Juga situs Sangiran adalah situs prasejarah penting di Jawa.

Sekitar 40.000 tahun yang lalu, suku Australoid yang terkait dengan Aborigin Australia modern dan Melanesia menjajah Jawa Tengah.

Sampai akhirnya mereka berasimilasi atau digantikan oleh bangsa Austronesia Mongoloid sekitar 3.000 SM, yang membawa teknologi tembikar, kano cadik, busur dan anak panah, serta memperkenalkan babi peliharaan, unggas, dan anjing. Mereka juga memperkenalkan budidaya padi dan millet.

Era Hindu-Budha dan Islam

Sejarah yang tercatat dimulai di tempat yang sekarang disebut Jawa Tengah pada abad ke-7 Masehi.

Tulisan serta Hindu dan Budha dibawa oleh orang India dari Asia Selatan, dimana pada saat itu Jawa Tengah merupakan pusat kekuasaan di Jawa.

Pada 664 M, biksu Cina Hui-neng mengunjungi kota pelabuhan di Jawa yang ia sebut Hēlíng (訶 陵) atau Ho-ling, di mana ia menerjemahkan berbagai kitab Buddha ke dalam bahasa Cina dengan bantuan biksu Buddha Jawa Jñānabhadra.

Tidak diketahui secara pasti apa yang dimaksud dengan nama Hēlíng. Dulu dianggap sebagai transkripsi Cina Kalinga tetapi sekarang paling sering dianggap sebagai rendering nama Areng. Hēlíng sendiri diyakini terletak di suatu tempat antara Semarang dan Jepara.

Prasasti bertanggal pertama di Jawa Tengah adalah Canggal dari tahun 732 M (atau 654 Saka).

Prasasti yang berasal dari Kedu ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dalam aksara Pallava.

Tertulis bahwa seorang raja Shaiv bernama Sri Sanjaya mendirikan kerajaan bernama Mataram.

Di bawah pemerintahan Dinasti Sanjaya, beberapa monumen seperti kompleks Candi Prambanan dibangun.
Pada saat yang sama, muncul dinasti saingan Sailendra yang menganut agama Buddha dan membangun Candi Borobudur.

Setelah 820 M, tidak ada lagi penyebutan Hēlíng dalam catatan Cina. Fakta ini bertepatan dengan penggulingan Sailendras oleh Sanjaya yang mengembalikan Shaivisme sebagai agama dominan.

Namun, pada pertengahan abad ke-10, pusat kekuasaan berpindah ke Jawa bagian timur. Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan mencapai puncaknya kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389 m).

Kerajaan mengklaim kedaulatan atas seluruh kepulauan Indonesia, meskipun kendalinya cenderung terbatas di Jawa, Bali dan Madura.

Gajah Mada adalah seorang pemimpin militer selama masa itu yang memimpin banyak penaklukan wilayah.
Kerajaan-kerajaan di Jawa sebelumnya mendasarkan kekuasaannya pada pertanian.

Disamping itu, Majapahit berhasil merebut pelabuhan dan jalur pelayaran dalam upaya menjadi kerajaan komersial pertama di Jawa.

Kerajaan pun mengalami kemunduran setelah kematian Hayam Wuruk dan disusul dengan masuknya Islam ke Nusantara.

Di akhir abad ke-16, Islam telah berkembang dan melampaui Hindu dan Budha sebagai agama mayoritas masyarakat Jawa.

Munculnya kerajaan Islam di Jawa juga tidak lepas dari peran Walisongo. Pada awalnya penyebaran Islam berlangsung cepat dan diterima oleh masyarakat biasa, hingga masuknya dakwah dan dilakukan oleh penguasa pulau.

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama yang tercatat di Jawa, pertama dipimpin oleh salah satu keturunan Majapahit kaisar Raden Patah yang masuk Islam.

Pada periode ini kerajaan Islam mulai berkembang dari Pajang, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, dan Banten untuk membangun kekuasaannya.

Kerajaan Islam lainnya seperti Kesultanan Mataram tumbuh menjadi kekuatan dominan dari bagian tengah dan timur Jawa.

Penguasa Surabaya dan Cirebon ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, dan hanya Kesultanan Mataram dan Banten yang tertinggal ketika Belanda datang pada awal abad ke-17.

Beberapa peninggalan kerajaan Islam di Jawa masih dapat ditemukan di beberapa kota, seperti Surakarta dan Yogyakarta dengan masing-masing Kasunanan dan Mangkunegaran, serta Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman.

Pemerintahan Kolonial Belanda

Pada akhir abad ke-16, pedagang Eropa mulai mengunjungi pelabuhan di Jawa Tengah. Belanda hadir di wilayah tersebut melalui Perusahaan India Timur mereka.

Setelah runtuhnya Demak, Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung mampu menaklukkan hampir seluruh Jawa dan sekitarnya pada abad ke-17.

Karena perselisihan internal dan penyebaran isu bohong oleh Belanda, sehingga memaksa Jawa untuk menyerahkan lebih banyak tanah kepada Belanda.

Peristiwa ini akhirnya menyebabkan beberapa perpecahan di Mataram. Pertama setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi kerajaan menjadi dua, Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam beberapa tahun terjadi pemisahan lagi dengan berdirinya Mangkunegaran mengikuti Perjanjian 1757 Salatiga.
Selama Perang Napoleon di Eropa, Jawa Tengah sebagai koloni Belanda diserahkan kepada Inggris.

Pada tahun 1813, Kesultanan Yogyakarta juga dibagi dengan berdirinya Pakualaman. Setelah kepergian Inggris, Belanda kembali seperti yang diatur dalam Kongres Wina.

Perang Jawa antara 1825 dan 1830 memicu kerusakan di Jawa Tengah yang mengakibatkan penyatuan kekuasaan Belanda.

Kekuasaan dan wilayah Mataram yang sudah terpecah akhirnya semakin sangat berkurang.

Setelah perang, Belanda memberlakukan sistem budidaya yang dikaitkan dengan kelaparan dan wabah penyakit pada tahun 1840-an, pertama di Cirebon dan kemudian Jawa Tengah.

Adapun tanaman komersial seperti nila dan gula harus ditanam sebagai pengganti padi.

Namun, Belanda juga membawa modernisasi ke Jawa Tengah. Pada tahun 1900-an, pendahulu dari Jawa Tengah modern diciptakan dengan nama Gouvernement of Midden-Java.

Sebelum tahun 1905, Jawa Tengah terdiri dari 5 gewesten (wilayah) yaitu Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas, dan Pekalongan.

Surakarta masih merupakan vorstenland (daerah otonom) yang berdiri sendiri dan terdiri dari dua daerah, Surakarta dan Mangkunegaran.

Saat itu, gewest Rembang juga menyertakan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro.

Setelah berlakunya Decentralisatie Besluit (Keputusan Desentralisasi) 1905, gubernur diberi otonomi dan dibentuk dewan daerah.

Selain itu, dibentuk pula gemeente otonom (munisipal) yaitu Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga dan Magelang.

Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki provinsial raad (dewan provinsi). Provinsi ini terdiri dari beberapa penduduk (karesidenan) yang mencakup beberapa kabupaten dan terbagi menjadi beberapa kawedanan.

Masa itu Jawa Tengah terdiri dari 5 pemukiman, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang, Semarang, Banyumas, dan Kedu.

Era Kemerdekaan dan Kontemporer

Pada tanggal 1 Maret 1942, Tentara Kekaisaran Jepang mendarat di Jawa, dan minggu berikutnya pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Selama pemerintahan Jepang, Jawa dan Madura ditempatkan di bawah pengawasan Tentara ke-16 Jepang.

Banyak orang yang tinggal di daerah yang dianggap penting untuk upaya perang mengalami penyiksaan, perbudakan seks, penangkapan dan eksekusi sewenang-wenang, dan kejahatan perang lainnya.

Ribuan orang dibawa pergi sebagai pekerja paksa (romusha) untuk proyek militer Jepang, termasuk perkeretaapian Burma-Siam dan Saketi-Bayah, hingga banyak yang menderita atau mati karena perlakuan buruk dan kelaparan.

Laporan PBB selanjutnya menyatakan bahwa empat juta orang tewas di Indonesia akibat pendudukan Jepang.

Kebusukan perlakuan Jepang, sekitar 2,4 juta orang meninggal di Jawa karena kelaparan selama 1944-1945.

Menyusul penyerahan Jepang, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Ketika tahap akhir peperangan dimulai pada bulan Oktober, dengan syarat penyerahannya Jepang mencoba untuk membangun kembali kekuasaan yang telah mereka serahkan kepada rakyat Indonesia di berbagai kota.

Pertempuran paling sengit yang melibatkan pemuda Indonesia dan Jepang terjadi di Semarang.

Disamping itu, dalam beberapa hari pasukan Inggris mulai menduduki kota. Setelah itu pasukan Republik Indonesia memberikan serangan balik dengan membunuh antara 130 dan 300 tahanan Jepang yang mereka tangkap.

Lima ratus orang Jepang dan 2.000 orang Indonesia telah terbunuh, dan Jepang hampir merebut kota itu enam hari kemudian ketika pasukan Inggris tiba.

Provinsi Jawa Tengah diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1950, tidak termasuk Yogyakarta tetapi termasuk Surakarta.

Sejak saat itu, tidak ada perubahan signifikan dalam pembagian administratif provinsi. Pasca Gerakan 30 September 1965, pembersihan anti-komunis terjadi di Jawa Tengah, di mana tentara dan kelompok sukarelawan membantai Komunis dan kelompok yang beraliran kiri.

Yang lainnya diinternir di kamp-kamp yang paling terkenal di pulau Buru Maluku, (tempat pertama kali digunakan sebagai pengasingan politik oleh Belanda).

Beberapa dieksekusi bertahun-tahun kemudian, tetapi sebagian besar dibebaskan pada tahun 1979.

Pada tahun 1998, menjelang jatuhnya presiden lama Suharto, kekerasan anti-Tionghoa meletus di Surakarta (Solo) dan sekitarnya, di mana properti Tionghoa dan bangunan lainnya dibakar.

Tahun berikutnya, gedung-gedung publik di Surakarta dibakar oleh pendukung Megawati Soekarnoputri setelah parlemen Indonesia memilih Abdurrahman Wahid sebagai Presiden.

Tahun 2006 Yogyakarta gempa di selatan dan Yogyakarta banyak bangunan hancur, ribuan menyebabkan kematian dan lebih dari 37.000 cedera.

Gubernur Jawa Tengah saat ini adalah Ganjar Pranowo.

Divisi Administrasi

Divisi Administrasi Jawa Tengah

Berdasarkan administratifnya, Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 29 kabupaten dan 6 kota. Administrasi kabupaten dan kota Jawa Tengah ini terdiri dari 545 kecamatan dan 8.490 desa/kelurahan.

Sedangkan dalam pemerintahan Daerah, Jawa Tengah terdiri dari 3 kota administratif yang meliputi: Kota Klaten, Kota Cilacap dan Kota Purwokerto.

Namun ketika diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, beberapa kota administratif tersebut dilakukan penghapusan, sehingga menjadi bagian dari wilayah kabupaten.

Menyusul otonomi daerah, ada 3 kabupaten yang memindahkan pusat pemerintahan di dalam wilayahnya sendiri, diantaranya adalah:

  • Kabupaten Magelang (dari Kota Magelang ke Mungkid).
  • Kabupaten Tegal (dari Kota Tegal ke Slawi).
  • Kabupaten Pekalongan (dari Kota Pekalongan ke Kajen).

Demografi Jawa Tengah

Demografi Jawa Tengah

Berdasarkan sensus 2010, jumlah penduduk Jawa Tengah mencapai 32,38 juta jiwa. Menurut sensus tahun 1990 populasinya sebanyak 28 juta.

Data ini menunjukkan peningkatan sekitar 13,5% dalam 20 tahun. Pada 2019, populasi secara resmi diperkirakan 34.552.500.

Tiga kabupaten terbesar dari segi jumlah penduduk adalah: Brebes, Cilacap dan Banyumas.

Bersama-sama mereka membentuk sekitar 16% dari populasi provinsi. Pusat-pusat populasi perkotaan utama Jawa Tengah termasuk Semarang Raya, Surakarta Besar dan daerah Brebes – Tegal – Slawi di barat laut provinsi.

Agama di Jawa Tengah

Agama mayoritas orang Jawa adalah Muslim. Disamping itu banyak juga yang menganut kepercayaan Jawa asli.
Clifford Geertz, dalam bukunya menceritakan tentang agama Jawa dan membuat perbedaan antara yang disebut santri Jawa dan Jawa abangan.

Dia menganggap yang pertama sebagai Muslim ortodoks dan yang terakhir sebagai Muslim nominal yang mencurahkan lebih banyak energi untuk tradisi pribumi.

Protestan Belanda aktif dalam kegiatan misionaris dan cukup berhasil. Misionaris Jesuit Katolik Belanda, FGC van Lith juga mencapai beberapa keberhasilan.

Pengaruhnya terkonsentrasi di daerah sekitar bagian tengah-selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada awal abad ke-20, dan kematiannya dimakamkan di pekuburan Jesuit di Muntilan.

Menyusul pergolakan 1965 – 66, identifikasi religius warga menjadi wajib, dan Buddha dan Hinduisme telah bangkit kembali sejak saat itu.

Sebagai salah satu harus memilih agama dari lima agama resmi di Indonesia; yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha, dua yang terakhir ini menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak ingin menjadi Muslim atau Kristen.

Konghucu juga umum di kalangan orang Indonesia Tionghoa. Pada era pasca-Soeharto diakui sebagai agama resmi bersama dengan kelima agama tersebut di atas.

Etnis atau Penduduk Jawa Tengah

Sekitar 98% mayoritas penduduk di Jawa Tengah adalah orang Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa. Kota Surakarta dan Yogyakarta merupakan pusat keraton kerajaan Jawa yang masih berdiri hingga saat ini.

Kelompok etnis minoritas yang signifikan termasuk orang Indonesia Tionghoa. Mereka biasanya bertempat tinggal di perkotaan, meski juga ditemukan di pedesaan.

Secara umum mereka bekerja di bidang perdagangan dan jasa. Banyak yang berbicara bahasa Jawa dengan cukup lancar karena mereka hidup berdampingan dengan bahasa Jawa.

Pengaruh yang kuat bisa dirasakan di Semarang dan kota Lasem di Kabupaten Rembang yang berada di ujung timur laut Jawa Tengah.

Bahkan Lasem dijuluki Le petit chinois atau Kota Cina Kecil. Daerah perkotaan yang padat penduduk Tionghoa Indonesia disebut sebagai pecinan.

Selain itu, di beberapa kota besar komunitas Arab-Indonesia juga bisa ditemukan. Mirip dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa.

Seperti peta Jawa Tengah, di wilayah yang berbatasan dengan provinsi Jawa Barat terdapat masyarakat Sunda dan budaya Sunda terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas.

Toponim Sunda umum di daerah-daerah ini seperti Dayeuhluhur di Cilacap, Ciputih dan Citimbang di Brebes dan bahkan Cilongok yang jauh di Banyumas.

Di pedalaman Blora yang berbatasan dengan Jawa Timur terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya hampir sama dengan orang Baduy di Banten.

Bahasa di Jawa Tengah

Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, namun kebanyakan orang Jawa Tengah menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Logat Solo-Jogja atau logat Mataram dianggap sebagai Bahasa Jawa baku.

Selain itu logat Jawa ada beberapa macam, tetapi secara umum terdiri dari dua macam yaitu kulonan dan timuran.

Yang pertama digunakan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri dari logat Banyumasan dan logat Tegal (disebut juga Basa Ngapak).

Pengucapan-nya sangat berbeda dari bahasa Jawa standar. Yang terakhir yaitu logat yang dituturkan di bagian timur provinsi, termasuk logat Mataram (Solo-Jogja), logat Semarang dan logat Pati.

Di antara perbatasan kedua logat tersebut bahasa Jawa diucapkan dengan campuran diantara kedua logat.

Daerah-daerah tersebut seperti Pekalongan dan Dataran Kedu, yang membentuk Magelang dan Temanggung.

Dulu wilayah barat di provinsi Jawa Tengah adalah wilayah kerajaan sunda, sehingga ada penduduk yang menggunakan bahasa sunda, namun lambat laun bahasa ini menyusut karena kurangnya dukungan dari pemerintah.

Adapun wilayah penduduk Sunda yaitu di selatan Kabupaten Brebes dan wilayah barat Kabupaten Cilacap, sekitar kecamatan Dayeuhluhur bahasa Sunda masih umum digunakan.

Geografi Jawa Tengah

Geografi Jawa Tengah

Menurut tingkat kemiringan lahan di Jawa Tengah, 38% memiliki kemiringan 0-2%, 31% memiliki kemiringan 2-15%, 19% memiliki kemiringan 15-40%, dan sisanya 12% memiliki kemiringan lebih dari 40%.

Wilayah pantai utara Jawa Tengah memiliki dataran rendah yang sempit. Di daerah Brebes lebarnya 40 km dari pantai, sedangkan di Semarang hanya selebar 4 km.

Dataran ini berlanjut dengan cekungan ke wilayah timur Semarang-Rembang. Diantara akhir Zaman Es 10.000 tahun SM, Gunung Muria merupakan sebuah pulau yang terpisah dari Jawa, dan akhirnya menyatu karena disebabkan oleh aliran sungai yang membentuk endapan aluvial.

Kota Demak pada masa Kesultanan Demak berada di tepi laut dan menjadi pelabuhan yang berkembang pesat. Proses sedimentasi ini masih berlangsung di pesisir pantai Semarang.

Di sebelah selatan kawasan terdapat Pegunungan Kapur Utara dan Pegunungan Kendeng yang merupakan pegunungan kapur yang membentang dari timur Semarang dari ujung Barat Daya Pati kemudian ke timur hingga ke Lamongan dan Bojonegoro di Jawa Timur.

Pegunungan utama di Jawa Tengah adalah Pegunungan Serayu Utara dan Selatan. Sebelah Utara membentuk barisan pegunungan yang menghubungkan jajaran Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di timur.

Lebar pegunungan ini sekitar 30-50 km; Di ujung barat terdapat Gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah sekaligus gunung tertinggi kedua di Jawa, dan bagian timurnya adalah Dataran Tinggi Dieng dengan puncak Gunung Prahu dan Gunung Ungaran.

Diantara deretan gunung Serayu Selatan dan Utara dipisahkan oleh Depresi Serayu yang membentang dari Majenang di Kabupaten Cilacap, Purwokerto, sampai daerah Wonosobo.

Sebelah timur depresi ini terdiri dari gunung Sindoro dan Sumbing, dan di timur lagi (wilayah Magelang dan Temanggung) merupakan kelanjutan dari depresi yang membatasi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Wilayah pegunungan Serayu Selatan adalah kawasan dari Cekungan Jawa Tengah Selatan yang mana posisinya berada di sebelah selatan daripada provinsi Jawa Tengah.

Mandala tersebut adalah geoantiklin yang membentang dari barat ke timur sepanjang 100 kilometer. Kawasan ini terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh lembah Jatilawang meliputi wilayah barat & timur.

Wilayah barat sebagai elemen struktur baru di Jawa Tengah yang dibentuk dari bagian Gunung Kabanaran (360 m) dengan ketinggian setara seperti Zona Depresi Bandung Jawa Barat. Kawasan ini memisah dari Zona Bogor karena terdapat Depresi Majenang.

Untuk wilayah timur dibangun dengan antiklin Ajibarang (antiklin sempit) yang dipotong oleh aliran Sungai Serayu.

Sedangkan wilayah timur Banyumas, antiklin berkembang menjadi antiklinorium yang melebar hingga 30 km di selatan Banjarnegara – Midangan (kawasan Lukulo) yang umum disebut Kebumen Tinggi.

Bagian ujung timur Mandala, pegunungan Serayu Selatan terbentuk dari kubah Pegunungan Kulonprogo dengan ketinggian(1.022 m). Kawasan ini terletak di antara Sungai Progo dan Purworejo.

Wilayah pantai selatan Jawa Tengah memiliki lebar 10 -25 km menjadikannya sebagai kawasan dataran rendah yang sempit.

Selain itu, ada Kawasan Karst Gombong Selatan. Perbukitan landai membentang sejajar pantai, dari Yogyakarta hingga Cilacap.

Timur Yogyakarta merupakan kawasan pegunungan kapur yang membentang hingga pesisir selatan Jawa Timur.

Hidrologi Jawa Tengah

Sungai-sungai yang bermuara di Laut Jawa antara lain Sungai Bengawan Solo, Kali Pemali, Kali Comal, dan Kali Bodri.

Sedangkan yang bermuara di Samudera Hindia antara lain Sungai Serayu, Sungai Bogowonto, Sungai Luk Ulo dan Sungai Progo.

Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di pulau Jawa (572 km); memiliki mata air di Pegunungan Sewu (Kabupaten Wonogiri).
Sungai ini mengalir ke arah utara, melintasi Kota Surakarta dan akhirnya mengalir ke Jawa Timur dan bermuara di daerah Gresik (dekat Surabaya).

Di antara beberapa danau dan waduk utama di Jawa Tengah antara lain sebagai berikut:

  • Danau Gunung Rowo (Kabupaten Pati).
  • Waduk Gajahmungkur (Kabupaten Wonogiri).
  • Waduk Kedungombo (Kabupaten Boyolali dan Sragen).
  • Danau Rawa Pening (Kabupaten Semarang).
  • Waduk Cacaban (Kabupaten Tegal).
  • Waduk Malahayu (Kabupaten Brebes).
  • Waduk Wadaslintang (perbatasan Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Wonosobo).
  • Waduk Gembong (Kabupaten Pati).
  • Waduk Sempor (Kabupaten Kebumen).
  • Waduk Mrica (Kabupaten Banjarnegara).

Iklim Jawa Tengah

Suhu rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18–28 derajat celcius dan kelembapan relatif bervariasi antara 73–94%.

Meskipun ada tingkat kelembapan yang tinggi di sebagian besar bagian dataran rendah provinsi ini, namun tingkat kelembapannya turun secara signifikan di pegunungan bagian atas.

Curah hujan tahunan Jawa Tengah rata-rata tertinggi sebesar 3.990 mm dengan 195 hari hujan tercatat di Salatiga.

Kota Dan Kabupaten Di Jawa Tengah

Kota dan Kabupaten Jawa Tengah

Berdasarkan Peta Jawa Tengah, provinsi dengan ibukota yang berada di Semarang ini terdiri dari 29 wilayah kabupaten dan 6 wilayah kota.

29 wilayah Kabupaten tersebut adalah sebagai berikut:

  • Banjarnegara
  • Banyumas
  • Batang
  • Blora
  • Boyolali
  • Brebes
  • Cilacap
  • Demak
  • Grobogan
  • Jepara
  • Karanganyar
  • Kebumen
  • Kendal
  • Klaten
  • Kudus
  • Magelang
  • Pati
  • Pekalongan
  • Pemalang
  • Purbalingga
  • Purworejo
  • Rembang
  • Semarang
  • Sragen
  • Sukoharjo
  • Tegal
  • Temanggung
  • Wonogiri
  • Wonosobo

Sedangkan enam wilayah Kota terdiri dari:

  • Kota Magelang
  • Kota Pekalongan
  • Kota Salatiga
  • Kota Semarang
  • Kota Surakarta
  • Kota Tegal

Dari 29 kabupaten di Jawa Tengah tersebut memiliki ciri khas masing-masing yang tentunya berbeda antara kabupaten satu dengan yang lainnya.

Baik dari segi bahasa, makanan khas, tempat wisata, sejarah hingga letak geografisnya tiap daerah tersebut sangatlah beragam, seperti halnya ngapak, ngoko dan kromo.

Peta Jawa Tengah menunjukkan wilayah provinsi Jawa Tengah juga meliputi Kepulauan Karimun Jawa di laut Jawa dan Pulau Nusa Kambangan di selatan pulau Jawa.

Melalui peta Jawa Tengah, wilayah tersebut dapat secara lengkap dan detail dibaca melalui google map ataupun buku atlas.

Budaya Jawa Tengah

Budaya Jawa Tengah

Jawa Tengah dianggap sebagai jantung budaya Jawa. Perilaku ideal hubungannya demgam moral (seperti kesopanan, kebangsawanan dan rahmat) memiliki pengaruh yang luar biasa pada masyarakat.

Mereka dikenal sebagai orang yang bersuara lembut, sangat sopan, sangat sadar kelas, apatis, rendah hati dll.

Presepsi ini membentuk apa yang dilihat kebanyakan orang non-Jawa sebagai “Budaya Jawa”, namun tidak semua orang Jawa berperilaku seperti kebanyakan orang Jawa dari budaya istana, sebab disetiap lingkungan dan pribadi seseorang tidak mutlak sama.

Pemetaan Budaya Jawa

Wilayah budaya Jawa dapat dibagi menjadi tiga wilayah utama yang berbeda: budaya Jawa Barat, Tengah, dan Timur.
Pembagian ini dalam budaya Jawa mereka disebut sebagai Ngapak, Kejawèn dan Arèk.

Dalam peta Jawa Tengah batas wilayah budaya ini bertepatan dengan isoglos dari logat Jawa. Kawasan budaya di sebelah barat Dataran Tinggi Dieng dan Kabupaten Pekalongan dianggap Ngapak sedangkan batas kawasan budaya timur atau Arèk terletak di Jawa Timur.

Akibatnya, secara kultural Jawa Tengah terdiri dari dua budaya, sedangkan Budaya Jawa Tengah sebenarnya tidak sepenuhnya terbatas di Jawa Tengah.

Seni Kreatif Jawa Tengah

Selain peta Jawa Tengah provinsi ini memiliki berbagai macam kekayaan akan seni kreatif yang menjadi ciri khas dari masing-masing daerahnya.

Arsitektur Jawa Tengah

Arsitektur Jawa Tengah dicirikan oleh penjajaran yang lama dan yang baru serta gaya arsitektur yang sangat beragam, warisan dari banyak pengaruh berturut-turut dari anak benua India, Timur Tengah, Cina, dan Eropa.

Khususnya kota-kota pesisir utara seperti Semarang, Tegal, dan Pekalongan memiliki arsitektur kolonial Eropa.

Pengaruh Eropa dan Cina dapat dilihat di kelenteng Sam Poo Kong di Semarang yang didedikasikan untuk Zheng He dan Gereja Kubah yang dibangun pada 1753.

Yang terakhir adalah gereja tertua kedua di Jawa dan tertua di Jawa Tengah. Di bekas ibukota Surakarta juga terdapat beberapa arsitektur Eropa.

Jawa Tengah juga memiliki beberapa bangunan keagamaan terkenal seperti kompleks candi Borobudur dan Prambanan adalah salah satu bangunan Buddha dan Hindu terbesar di dunia.

Secara umum, ciri khas masjid Jawa tidak memiliki kubah sebagai atapnya melainkan atap mirip Meru yang mengingatkan pada candi Hindu atau Budha.

Contohnya menara Masjid Kudus yang terkenal lebih menyerupai candi Hindu-Jawa atau Bali daripada masjid tradisional Timur Tengah.

Batik Jawa Tengah

Jawa Tengah terkenal dan terkenal dengan batiknya yang indah, teknik pewarnaan tahan lilin yang umum digunakan pada tekstil.

Batik Jawa Tengah tidak hanya satu jenis namun ada beberapa corak motif. Sentra produksi batik ada di Pekalongan, pusat lainnya termasuk Surakarta dan Yogyakarta.

Batik gaya Pekalongan yang merepresentasikan gaya pesisir berbeda dengan yang ada di Surakarta dan Yogyakarta yang merepresentasikan batik asal Jawa (gaya kejawèn).

Tarian Jawa Tengah

Banyak upacara tarian istana berkembang di keraton keraton Jawa. Mereka termasuk tarian kelompok seremonial penari pria yang mencerminkan pengaruh seni bela diri kuno.

Tarian keraton Jawa Tengah biasanya lambat dan anggun tanpa gerak tubuh yang berlebihan.

Orang-orang mengikuti tarian ini akan melakukan dengan gerakan lambat dan anggun bahkan dapat ditemukan dalam tarian rakyat di seluruh Jawa Tengah, meskipun ada beberapa pengecualian.

Keindahan tarian Jawa Tengah bisa dinikmati dalam “Kamajaya-Kamaratih” atau “Karonsih”, yang biasa ditampilkan dalam pesta pernikahan adat Jawa.

Teater Jawa Tengah

Ada beberapa macam seni teater dan pertunjukan Jawa Tengah. Yang paling terkenal adalah teater wayang Jawa yang memiliki beberapa jenis.

Diantaranya adalah wayang kulit, wayang klitik, wayang bèbèr, wayang golèk dan wayang wong.

Wayang kulit adalah teater wayang kulit dengan wayang yang berbahan dasar dari kulit. Ceritanya secara luas didasarkan pada siklus Mahabharata dan Ramayana.

Wayang klitik adalah teater boneka dengan boneka kayu pipih. Cerita-cerita tersebut didasarkan pada siklus cerita Panji (raja).

Wayang klitik Jawa Tengah memiliki kemiripan bentuk dengan wayang gedog. Karakternya memakai keris, dodot rapekan dilengkapi dengan kipas penutup kepala (tekes).

Wayang bèbèr adalah teater gulungan dan melibatkan adegan dari sebuah cerita yang digambar dan dilukis secara rumit di atas lembaran gulungan.

Wayang golèk terdiri dari boneka kayu tiga dimensi. Narasinya bisa berdasarkan apa saja, tapi biasanya diambil dari narasi heroik Islam.

Terakhir adalah wayang wong yaitu teater wayang yang melibatkan tokoh-tokoh hidup, aktor yang memainkan lakon. Dalam adegannya wayang wong ini harus didasarkan pada kisah Mahabharata atau Ramayana.

Selain wayang juga ada bentuk teater lain yang biasa disebut dengan ketoprak. Ketoprak adalah drama yang dipentaskan oleh para aktor yang diiringi dengan gamelan Jawa . Narasinya bebas tetapi tidak dapat didasarkan pada Mahabharata atau Ramayana.

Musik Tradisional Jawa Tengah dan Pop

Musik tradisional Jawa Tengah cenderung identik dengan gamelan. Ansambel musik Jawa Tengah biasanya menampilkan banyak instrumen seperti metalofon, drum, xilofon, gong, seruling bambu, senar busur maupun petik.

Vokalis juga dapat dimasukkan dalam instrumen. Vokalis lebih mengacu pada set instrumen daripada pemain instrumen tersebut.

Gamelan sebagai seperangkat instrumen adalah wujud yang berbeda, namun dibangun dan dimainkan untuk tetap selaras.

Instrumen dari gamelan yang berbeda tidak dapat dipertukarkan. Namun, gamelan bukanlah bahasa Jawa Tengah seperti yang dikenal di tempat lain.

Musik pop Jawa kontemporer disebut campursari. Ini adalah perpaduan antara gamelan dan instrumen Barat, seperti keroncong.

Meski tidak selalu, liriknya campursari biasanya menggunakan bahasa Jawa. Salah satu penyanyi terkenal adalah Didi Kempot alm, lahir di Sragen, Surakarta utara. Dia kebanyakan bernyanyi dalam bahasa Jawa.

Literature Sastra Jawa Tengah

Dapat dikatakan bahwa sastra Jawa dimulai di Jawa Tengah. Karya sastra tertua dalam bahasa Jawa yang diketahui adalah Prasasti Sivagrha dari Dataran Kedu.

Prasasti yang berasal dari tahun 856 M ini ditulis sebagai kakawin atau puisi Jawa dengan meteran India.

Puisi naratif tertua, Kakawin Ramayana yang menceritakan kisah Ramayana yang terkenal diyakini berasal dari Jawa Tengah.

Dapat diasumsikan dengan aman bahwa kakawin ini ditulis di wilayah Jawa Tengah pada abad ke-9.

Setelah peralihan kekuasaan Jawa ke Jawa Timur, Jawa Tengah sempat vakum selama beberapa abad terkait kesusastraan Jawa hingga abad ke-16.

Saat ini, pusat kekuasaan dialihkan kembali ke Jawa Tengah. Karya tertua yang ditulis dalam bahasa Jawa modern tentang Islam adalah yang disebut “Kitab Bonang” atau juga “Nasehat Seh Bari”.

Karya ini hanya ada dalam satu manuskrip, sekarang disimpan di Universitas Leiden sebagai codex Orientalis 1928.

Diasumsikan bahwa manuskrip ini berasal dari Tuban, di Jawa Timur dan dibawa ke Belanda setelah tahun 1598.

Namun, karya ini dikaitkan dengan Sunan Bonang, salah satu dari sembilan orang suci (wali) Jawa yang menyebarkan Islam di Jawa.

Sunan Bonang berasal dari Bonang, sebuah tempat di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Dapat dikatakan bahwa karya ini menandai awal kesusastraan Islam di wilayah tersebut.

Namun, puncak sastra Jawa Tengah diciptakan di istana raja-raja Mataram di Kartasura dan kemudian di Surakarta dan Yogyakarta yang sebagian besar dikaitkan dengan keluarga Yasadipura.

Anggota paling terkenal dari keluarga ini adalah Rangga Warsita yang hidup pada abad ke-19.

Dia adalah yang paling terkenal dari semua penulis Jawa dan juga salah satu yang paling produktif. Ia juga dikenal sebagai bujangga panutup atau “penyair istana terakhir”.

Setelah kemerdekaan, bahasa Jawa sebagai media didorong ke latar belakang. Tetap saja, salah satu penulis kontemporer Indonesia terbesar, Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora.

Dia adalah seorang penulis novel, cerita pendek, esai, polemik, dan sejarah tanah air dan rakyatnya.

Seorang penulis yang dihormati di Barat, tulisannya yang blak-blakan dan seringkali bermuatan politik menghadapi sensor di rumah.

Dia menghadapi hukuman di luar hukum karena menentang kebijakan Presiden Sukarno dan Suharto.

Selama dipenjara dan menjadi tahanan rumah, ia menjadi penyebab terkenal bagi para pendukung kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Dalam karyanya, ia banyak menulis tentang kehidupan dan masalah sosial di Jawa.

Masakan Jawa Tengah

Makanan Khas Jawa Tengah

Nasi merupakan makanan pokok masyarakat Jawa Tengah. Selain nasi, ada juga tiwul adalah makanan yang berasal dari singkong kering yang dikenal dengan gaplèk.

Makanan jawa cenderung berasa manis. Banyak ditemukan sayuran yang dimasak dan direbus, biasanya dibumbui dengan santan. Sayur mentah, yang populer di Jawa Barat kurang lazim untuk disajikan di Jawa Tengah.

Ikan air asin, baik segar maupun kering merupakan hal yang umum, terutama di antara daerah pesisir.

Ikan air tawar tidak populer di Jawa Tengah, tidak seperti di Jawa Barat, kecuali mungkin ikan lele. Biasanya digoreng dan disajikan dengan sambal dan lalapan.

Adapun masakan yang berupa daging. Daging ayam, kambing dan sapi adalah daging yang umum.

Tahu dan tempe menjadi standar pengganti ikan dan daging. Hidangan terkenal di Jawa Tengah termasuk gudeg (makanan dari nangka yang manis) dan sayur lodeh (sayuran yang dimasak dengan santan).

Selain makanan di atas, pengaruh Tiongkok yang kuat dalam berbagai hidangan juga ada. Beberapa contoh makanan Sino-Jawa termasuk mie, bakso, lumpia, soto dll.

Penggunaan kecap manis yang meluas dalam masakan Jawa juga dapat dikaitkan dengan pengaruh Cina.

Angkutan/Transportasi Jawa Tengah

Transportasi Jawa Tengah

Jawa Tengah terkoneksi dengan Jalan Tol Trans-Jawa yang saat ini membentang dari Merak di Banten ke Probolinggo (rencana: Banyuwangi), Jawa Timur.

Di dalam provinsi jalan tol dimulai dari Brebes dilanjutkan melalui Semarang dan Surakarta hingga ke timur Sragen.

Di sepanjang pantai utara timur Semarang ada Jalan Pantai Utara atau Jalur Pantura adalah jalan utama.

Losari, merupakan gerbang Jawa Tengah di perbatasan barat pantai utara, bisa dicapai dari Jakarta dalam 4 jam perjalanan.

Di pantai selatan juga terdapat jalur nasional yang membentang dari Kroya di perbatasan Sunda-Jawa, melalui Yogyakarta ke Surakarta dan kemudian ke Surabaya melalui Kertosono Nganjuk Jawa Timur.

Ada juga jalur yang langsung yang menghubungkan dari Tegal ke Purwokerto dan dari Semarang ke Yogyakarta dan Surakarta.

Jawa Tengah adalah provinsi yang pertama kali memperkenalkan jalur kereta api di Indonesia. Jalur pertama dimulai pada tahun 1873 antara Semarang dan Yogyakarta oleh sebuah perusahaan swasta, tetapi jalur ini sekarang tidak lagi digunakan.

Saat ini terdapat lima jalur di Jawa Tengah: jalur utara yang membentang dari Jakarta melalui Semarang ke Surabaya.

Lalu ada jalur selatan dari Kroya melalui Yogyakarta dan Surakarta ke Surabaya. Ada juga layanan kereta api antara Semarang dan Surakarta dan layanan antara Kroya dan Cirebon.

Akhirnya ada rute antara Surakarta dan Wonogiri. Jalur antara Kutoarjo dan Surakarta, jalur dari Cirebon ke Kroya hingga Purwokerto dan seluruh jalur pantai utara (sejak 2014) merupakan jalur ganda,

Sedangkan jalur kedua dari Surakarta ke Kertosono (menuju Surabaya) dan Purwokerto-Kroya-Kutoarjo sedang dalam pembangunan yang diselesaikan pada tahun 2019. Jalur lainnya adalah jalur tunggal.

Di pantai utara Jawa Tengah dilayani oleh 8 pelabuhan. Pelabuhan utama adalah Tanjung Mas di Semarang, pelabuhan lainnya berada di Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Jepara, Juwana dan Rembang. Pantai selatan terutama dilayani oleh pelabuhan Tanjung Intan di Cilacap.

Terakhir di daratan Jawa Tengah ada tiga bandara komersial. Ada satu bandara komersial tambahan di pulau Karimunjawa.

Bandara di daratan adalah: Bandara Internasional Adisumarmo di Surakarta, Bandara Achmad Yani di Semarang dan Bandara Tunggul Wulung di Cilacap. Karimunjawa dilayani oleh Bandara Dewadaru.

Ekonomi Jawa Tengah

Ekonomi Jawa Tengah

PDB di provinsi Jawa Tengah diperkirakan sekitar $ US 98 miliar pada tahun 2010, dengan pendapatan per kapita sekitar $ US 3.300.

Pertumbuhan ekonomi di provinsi ini cukup pesat dan PDB diperkirakan mencapai $ US 180 miliar pada tahun 2015. Angka kemiskinan penduduknya adalah 13% dan akan menurun di bawah 6%.

Pertanian Jawa Tengah

Sebagian besar daerah Jawa Tengah merupakan daerah pertanian yang subur. Tanaman pangan utama adalah padi basah.

Jaringan irigasi yang rumit dari kanal, bendungan, saluran air, dan waduk telah memberikan kontribusi besar terhadap kapasitas tanam padi di Jawa Tengah selama berabad-abad.

Pada tahun 2001 produktivitas padi 5.022 kilogram / ha yang sebagian besar berasal dari sawah irigasi (± 98%). Kabupaten Klaten memiliki produktivitas tertinggi yaitu 5.525 kilogram.

Tanaman lain yang juga banyak ditanam di dataran rendah pada lahan petani kecil adalah jagung, ubi kayu, kacang tanah (kacang tanah), kedelai, dan ubi jalar.

Di lereng bukit bertingkat dan sawah merupakan area sawah yang dikenal memanfaatkan dari iririgasi.
Kapuk, wijen, sayur mayur, pisang, mangga, buah durian, buah jeruk, dan minyak nabati diproduksi untuk konsumsi masyarakat lokal.

Teh, kopi, tembakau, karet, tebu dan kapuk dan kelapa diekspor. Beberapa dari tanaman komersial ini sebagian besar biasanya ditanam di perkebunan keluarga.

Ada juga ternak, terutama kerbau yang dipelihara untuk digunakan sebagai hewan penarik. Selain itu para nelayan menghasilkan ikan asin dan kering untuk diimpor.

Pendidikan Jawa Tengah

Pendidikan Jawa Tengah

Jawa Tengah adalah rumah bagi universitas negeri ternama, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang dan Universitas Islam Walisongo di Semarang, Universitas Sebelas Maret di Surakarta dan Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Akademi Militer berlokasi di Kabupaten Magelang sedangkan Akademi Polisi ( Akademi Kepolisian ) berlokasi di Semarang.

Selanjutnya di Surakarta ada Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta). Selain itu, Jawa Tengah memiliki ratusan perguruan tinggi swasta lainnya, termasuk lembaga keagamaan.

Bagi pelajar asing yang membutuhkan pelatihan bahasa, Salatiga telah menjadi lokasi bagi generasi pelajar untuk mengikuti kursus.

Pariwisata Jawa Tengah

Wisata di Jawa Tengah

Ada beberapa tempat wisata di Jawa Tengah. Semarang sendiri memiliki banyak bangunan tua seperti Puri Maerokoco dan Museum Rekor Indonesia.

Borobudur yang merupakan salah satu situs Warisan Budaya Dunia UNESCO di Indonesia juga terletak di provinsi ini, tepatnya di Kabupaten Magelang. Candi Mendut dan Candi Pawon juga dapat ditemukan di dekat kompleks candi Borobudur.

Candi Prambanan, di perbatasan Kabupaten Klaten dan Yogyakarta adalah kompleks candi Hindu terbesar.

Candi tersebut juga merupakan Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO. Ada juga beberapa candi di wilayah sekitar Dataran Tinggi Dieng dari sebelum era Mataram Kuno.

Istana Sunan (Keraton Kasunanan) dan Pura Mangkunegaran terletak di Surakarta, sedangkan air terjun Grojogan Sewu terletak di Kabupaten Karanganyar. Beberapa candi Majapahit dan museum Sangiran juga terletak di Jawa Tengah.

Lambang / Simbol Jawa Tengah

Lambang atau Logo Jawa Tengah

Motto Jawa Tengah adalah Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja. Ini adalah ungkapan Jawa yang berarti “Sumpah pengabdian dengan segenap kekuatan untuk negara”.

Lambang Jawa Tengah menggambarkan labu legendaris, Kundi Amerta atau Cupu Manik, berbentuk segi lima melambangkan Pancasila.

Di tengah lambang berdiri paku bambu runcing (melambangkan perjuangan kemerdekaan, dan memiliki 8 bagian yang melambangkan bulan kemerdekaan Indonesia) dengan bintang emas bersudut lima (melambangkan iman kepada Tuhan), ditumpangkan pada profil hitam satu candi dengan tujuh stupa, sedangkan stupa tengah adalah yang terbesar.

Candi ini mengingatkan pada Borobudur. Di bawah candi terlihat garis bergelombang perairan. Di belakang candi terlihat dua puncak gunung emas.

Gunung kembar ini melambangkan persatuan antara rakyat dan pemerintahannya. Lambang tersebut menunjukkan langit hijau di atas candi.

Di atas perisai dihiasi pita merah putih sebagai warna lambing bendera Indonesia . Di sisi kiri dan kanan perisai terdapat tangkai padi (17 di antaranya mewakili hari kemerdekaan Indonesia) dan bunga kapas (5 di antaranya, masing-masing 4 kelopak, melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia).

Di bagian bawah, perisai dihiasi pita merah keemasan. Pada pita tertulis nama Jawa Tengah dengan warna hitam. Simbol bunga provinsi adalah Michelia alba, sedangkan fauna provinsi adalah Oriolus chinensis.

Penutup

Demikian sajian informasi mengenai peta Jawa Tengah beserta penjelasan mengenai karakteristik wilayah, sejarah, dan budaya selengkapnya.

Kami harap dengan ulasan tersebut dapat menambah wawasan mengenai peta Jawa Tengah agar dapat mempermudah dalam belajar dan mengenalnya. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

mnbvc
Sindu Muda Sindu Muda, (Pejuang Waktu) yang suka belajar apa saja untuk kemanfaatan sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *